Menjalani hidup benar itu bagaimana...?
Menurut yang ini begini, menurut yang itu begitu.
Sebagian besar manusia berada dalam kebingungan.
Kemudian mereka mengikuti si ini, si itu.
Berbondong-bondong digiring kesana kemari, ikut arus yang
membawa mereka ke kebingungan yang tak terjawab.
Dengarlah pendapatnya, selalu dimulai dengan : kata si
ini,kata si itu...dst.
Jarang sekali terdengar ungkapan : menurut pendapatku...
Mereka saling menyalahkan berdasar kepada pendapat si
ini, si itu.
Bukankah setiap manusia dianugrahi perangkat untuk
menjadi dirinya sendiri...?
Ketika suara menjadi sama, itu hasil dari olah fikir
masing-masing yang ternyata berkesimpulan sama.
Begitulah seharusnya menjalani hidup.
Kebenaran itu ditemukan dan dijalani sebagai prinsip
pribadi yang dilakukan bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan untuk
kesejahteraan bersama.
Orang berilmu itu akan terseleksi oleh alam.
Ketika hanya memiliki hafalan kemudian mengangkat diri
menjadi orang berilmu, keadaannya menjadi lucu. Dia tidak mampu menjalani dan
menjawab apa yang semestinya dijawab.
Senjata pamungkas yang selalu diulang adalah mendasarkan
pendapat kepada pendapat orang lain.
Apa yang bisa diambil dari orang yang hanya mengumpulkan
hafalan...?
Hidup itu harus menentukan sikap,dan sikap menyontek
adalah tidak asli sebagai pendapat sendiri.
Ritual ibadah khusus, memiliki ketentuan yang baku.
Kegiatan hidup diluar ibadah khusus memerlukan
kreatifitas dan seni hidup yang dimiliki oleh setiap pribadi.
Terjemahan sebagai baik,benar, adalah sikap terbaik yang
diambil oleh setiap pribadi.
Manusia memiliki keunikan masing-masing agar saling
mengisi dan saling melengkapi.
Jika manusia menyontek sikap, hasilnya bukan keaslian.
Menyontek bukanlah proses yang mampu mengeluarkan seluruh
potensi diri.
Banyak manusia dikelabui oleh para penganjur
agama/kepercayaan yang tidak memberi kebebasan berfikir dan bersikap. Mereka menjejali
ketentuan2 yang direkayasa sendiri dengan mengatasnamakan agama/kepercayaan
itu. Kemudian memberi predikat shaleh untuk yang mengikutinya.
Betapa bahaya jika orang yang tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menjadi pemimpin agama. Dia memperlakukan manusia bagai itik yang digiring kesana- kemari dengan iming-iming predikat shaleh...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar