Sikap hidup adalah realisasi dari keimanan.
Posisi Tuhan / yang dituhankan bagi seseorang sedikitnya
terlihat dari bagaimana dia bersikap dalam berkehidupan.
Keseluruhan sikap adalah cermin apa yang ada di dalam
dirinya.
Anggota tubuhmu yang akan ditanya dan bicara.
Ketika dinilai,tak ada diskusi dan posisi argumentatif
lisan.
Sikap tanpa rekayasa adalah kejujuran.
Ketika yang dinilai adalah sikap sebagai pribadi, maka
keyakinan tentang ketuhanan adalah sikap pribadi yang utuh sebagai diri
sendiri.
Pembelajaran dan pengetahuan yang diterima dari luar diri
adalah masukan yang akan dipertimbangkan untuk diterima/ditolak.
Hasil dari pembelajaran/pengetahuan akan berdampak ketika
direalisasikan jadi sikap.
Selama masih berada di pengolahan berfikir,dia belum
bernilai sebagai sikap.
Sementara itu menjalani proses berfikir sudah memiliki
nilai tersendiri yaitu menggunakan diri untuk berguna.
Betapa penting realisasi dari keimanan.
Yang dinilai itu amal (perilaku).
Perilaku bisa jadi dilakukan oleh fisik.
Perilaku juga bisa jadi berupa buah fikiran yang bermanfaat dalam menyelesaikan tugas hidup.
Bertanya bisa berada dalam pertanyaan yang dikemukakan, bisa
berada dalam penolakan yang diungkapkan.
Jika disimak, semua berada dalam keadaan bertanya.
Mereka yang memiliki yakin, tidak akan repot dengan
ditanya, karena keyakinan bukan tentang orang lain harus setuju atau tidak
setuju.
Dia akan berdamai dengan pendapat siapapun karena yang
lebih penting baginya adalah merealisasikan keyakinannya.
Sikapnya bukan tentang takut atau berani, ini tentang
bagaimana keyakinan direalisasikan sebagai pengabdian.
Pengabdian adalah proses menggunakan seluruh diri sebagai
realisasi mengabdi.
Kebijaksanaan adalah kecerdasan sikap dalam realisasi
mengabdi.
Keyakinan memiliki kekuatan.
Keyakinan yang mudah goyah bukanlah keyakinan yang asli.
Semakin universal keyakinan,semakin memiliki manfaat bagi
seluas area keyakinan itu.
Sikap keras kepala bukanlah keyakinan yang asli.
Keras kepala adalah sikap yang muncul dari ego.
Sungguh berbeda antara sikap beragama dan sikap mau
menang sendiri.
Agama seharusnya sebagai pedoman aturan berkehidupan yang berguna bagi kesejahteraan seluruh kehidupan.
ketika dirimu...
bukan siapa-siapa...
tak memiliki apa-apa...
tak ada daya upaya...
itu benar....
jika dirimu mengaitkan kepada Yang Maha Berkuasa...
ketika dirimu...
demikian berharga...
memiliki apa-apa...
tak terbatas berkemungkinan berdaya upaya..
itu benar...
jika dirimu mengaitkan kepada Yang Maha Menciptakan Segala Sesuatu...
semua menjadi benar...
ketika berada dalam ranah yakin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar